Duo Hitesh Bharwani dan Manoj Bharwani di Kanmo Group, Sukses Implementasi Omnichannel sebagai Titik Distribusi

(09/03/2026), Hitesh Bharwani dan Manoj Bharwani merupakan duo co-founder yang mendirikan Kanmo Group di 2005. Salah satu kesuksesan Kanmo Group adalah melakukan implementasi omnichannel sebagai titik distribusi yang membuat pergerakan barang lebih cepat.

  • Kanmo Group merupakan grup ritel yang membawahi berbagai brand global kategori fesyen, lifestyle, dan premium
  • Lebih dari dua dasawarsa, Kanmo Group membawahi lebih dari 400 gerai brand global di seluruh Indonesia.

Hitesh Bharwani dan Manoj Bharwani mendirikan Kanmo Group di tahun 2005 karena harus terbang mencari kebutuhan keluarga ke Singapura dan Hong Kong. Di Indonesia waktu itu belum bisa mendapatkan berbagai merek internasional. 

Dari kebutuhan pribadi tersebut, mereka mendirikan Kanmo Group. Mothercare adalah brand global pertama yang dibawa ke Indonesia. Setelah itu, perusahaan juga membawa Early Learning Centre, Coach, Nespresso, Kate Spade, Havaianas, Cole Haan, dan Adidas yang banyak dicintai konsumen Indonesia.

Setelah dua dekade, Kanmo Group bertransformasi menjadi salah satu perusahaan retail–consumer omnichannel terbesar di Indonesia. Simak beberapa insight bisnis dari dua co-founder Kanmo Group, Hitesh Bharwani dan Manoj Bharwani :

Memulai Bisnis dari Peluang yang Tidak Terpenuhi

Bagaimana mendapatkan dan memulai ide bisnis? Co-founder Kanmo Group memulai dari tren ataupun ide yang out-of-the-box. Mereka memulainya dari kebutuhan nyata yang terjadi dari kehidupan sendiri yaitu minimnya produk bayi yang berkualitas di Indonesia. Padahal, Indonesia memiliki jumlah kelas menengah yang besar sehingga membutuhkan produk-produk berkualitas.

“Hal itulah yang menjadi titik awal kami menghadirkan Mothercare, sebut mereka.

Di tahun 2005, Indonesia belum menjadi magnet ritel. Karena itu, beberapa prinsipal global merasa ragu. Meski begitu, mereka yakin dan mengambil risiko. Mereka meyakinkan brand tersebut untuk melihat potensi tersembunyi pasar Indonesia.

Transformasi Digital di 2012 yang Membuat Perbedaan Besar

Salah satu keputusan paling visioner Kanmo Group adalah melakukan transformasi digital saat pihak lain belum melakukannya. Pada 2012, sebelum e-commerce dan omnichannel menjadi kata populer, dan digitalisasi dianggap “opsional,” Kanmo Group memilih melakukan transformasi digital.

Mereka membangun website brand yang menarik dan efisien, memperbarui backend, menerapkan CRM modern, membangun loyalty konsumen berbasis digital,
mengintegrasikan data pelanggan, serta mengubah toko menjadi titik omnichannel.

“Orang bilang investasi digital terlalu cepat. Tapi ketika pandemi datang, keputusan tersebut menyelamatkan,” tambah dia.

Di 2020, ketika pandemi COVID-19 datang, mal dan pusat perbelanjaan tutup. Kompetitor yang belum siap secara digital panik, sebaliknya Kanmo Group sudah siap.

Omnichannel, Mengubah Toko dari Biaya menjadi Titik Distribusi

Di Indonesia yang merupakan negara besar dengan lebih dari 17 ribu pulau, distribusi barang merupakan salah satu hal paling menantang bagi bisnis. Namun, Kanmo Group berupaya mengubah tantangan tersebut menjadi keunggulan.

Dengan hampir 400 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia, Kanmo Group menjadikan gerai sebagai sebagai micro-warehouse nasional, armada distribusi kota besar hingga kota kecil, pusat konsultasi pelanggan dan titik yang dapat membantu mempercepat pengiriman barang.

Dengan begitu, produk yang diminta konsumen dapat sampai ke tangan lebih cepat dengan biaya logistik turun. Bonusnya, mereka juga dapat menarik data penjualan secara real-time.

“Siapa pun bisa order dari seluruh jaringan toko. Toko bukan hanya tempat belanja, tetapi titik pemenuhan,” jelas dia.

Global Thinking, Local Execution

Konsumen Indonesia adalah mereka yang menghargai kualitas global, tetapi merespon dan mencintai sentuhan lokal. Karena itu, Kanmo Group tidak hanya membawa brand global, tetapi membuat sentuhan Indonesia. Langkah ini dilakukan dengan melakukan kolaborasi dengan KOL (Key Opinion Leader) dan desainer lokal, membuat event dan aktivasi komunitas, dan membuat produksi lokal untuk brand internasional.

Brand harus punya cerita dan hubungan dengan komunitas, dengan ibu, pecinta kopi, atau gen Z” tambahnya lagi.

Membangun Tim Entrepreneurial, Bukan Sekadar Karyawan

Salah satu kekuatan Kanmo Group adalah memiliki budaya internal yang kuat. Mereka membuat budaya kerja yang nyaman untuk mencoba suatu hal baru, belajar hal baru dengan cepat, dan mengambil keputusan cepat berdasarkan data ataupun intuisi. Hal tersebut penting khususnya karena dunia ritel adalah dunia yang penuh perubahan dan volatilitas.

Founder Dilarang jadi “Superman”

Saat bisnis mulai tumbuh, banyak pengusaha ingin mengendalikan semua hal, tidak menghitung dengan cermat saat ingin ekspansi bisnis dan tidak membangun sistem dan proses bisnis yang kuat. Hal ini tidak berlaku di Kanmo Group.

“Setelah bisnis tumbuh, Anda harus investasi pada proses, sistem, dan orang. Jika tidak, fondasinya runtuh,” pesannya.

Fondasi Bisnis

Kanmo Group memiliki value bisnis yang harus dijaga terus dan menjadi pondasi yaitu IGROW: I (Integrity), G (Gracious & Humble), (R ) Recognition & Kindness, (O) Optimism & Excellence dan W (We are Family). Nilai ini bukan sekadar tulisan tetapi fondasi saat mengambil keputusan sulit.

Rekomendasi Berita