House View Report

edisi

House View September 2026

08 September 2026

Rilis data inflasi AS Juli 2026 bertahan tinggi. Hal tersebut memicu komentar hawkish Kevin Warsh di Jackson Hole Symposium. Alhasil, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed naik dari 25 bps ke 50 bps FY2026. Di sisi lain, menteri keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan rencana buyback UST tenor 10YR - 30YR sebesar USD 4,00 miliar per operasi mulai 9 September 2026. Hal tersebut dilakukan untuk menurunkan cost of borrowing di tengah tingkat utang AS yang telah mencapai USD 40,00 triliun per Agustus 2026. Namun, yield UST justru masih mengalami kenaikan.
Bagaimana dampaknya ke pergerakan pasar finansial global & Indonesia?

Download Pdf

House View Agustus 2026

04 Agustus 2026

Inflasi AS di Juni 2026 melandai akibat harga minyak yang sempat turun mendekati pre-war level, namun risiko dari inflasi core services dan tensi geopolitik membuat potensi kenaikan suku bunga The Fed tetap ada. Di sisi lain, ekonomi Tiongkok melemah dengan PDB Q2 2026 hanya tumbuh 4,30% YoY, terendah dalam 3 tahun dan berada di bawah target tahunan. Di Indonesia, S&P mempertahankan credit rating Indonesia di BBB dengan outlook stabil melihat kredibilitas kebijakan fiskal dan ketahanan makroekonomi dalam memitigasi tekanan eksternal.
Di tengah bayang - bayang inflasi global dan perlambatan ekonomi, bagaimana dampaknya ke pergerakan pasar finansial global & Indonesia?

Download Pdf

House View Juli 2026

01 Juli 2026

Hingga Mei 2026, inflasi AS bertahan tinggi akibat kenaikan harga minyak di tengah perang AS – Iran. Hal ini berpotensi memicu kenaikan suku bunga The Fed. Di Tiongkok, meskipun kondisi ekonomi belum menunjukkan pemulihan substansial, Tiongkok memiliki sumber pertumbuhan ekonomi baru yakni teknologi.
Jika inflasi bertahan tinggi dan bank sentral dunia mulai menerapkan pengetatan kebijakan moneter, bagaimana dampaknya ke pergerakan pasar finansial global & Indonesia?

Download Pdf

House View Juni 2026

08 Juni 2026

Negosiasi antara AS – Iran yang berkepanjangan membuat harga minyak bertahan tinggi. Hal tersebut membuat inflasi global mengalami tren kenaikan sehingga mendorong bank sentral global mulai beralih ke era kenaikan suku bunga. Di sisi lain, defisit fiskal global belum kembali ke level sebelum COVID-19. Di Indonesia, BI menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas IDR. Jika perang terus berlanjut, bagaimana dampaknya ke pergerakan pasar finansial global & dampaknya terhadap Indonesia?

Download Pdf