Drh. Gowinda Sibit di Tekad Mandiri Citra (TMC) Asa dari Bandung Menjadi Perusahaan Biotek Global

(10/03/2026), Perjalanan Drh. Gowinda Sibit membangun Tekad Mandiri Citra (TMC) sebagai produsen obat hewan dimulai tahun 1998. Setelah menjadi pemain nasional, TMC memiliki asa untuk menjadi perusahaan biotek global.

  • TMC memproduksi obat hewan untuk ternak produksi seperti unggas, ruminansia, dan hewan lain yang dikonsumsi manusia.
  • Setelah memiliki 16 cabang yang ada di Indonesia, Drh.Gowinda Sibit menargetkan TMC go-international yang memiliki produk riset dengan basis bahan baku sendiri.

Krisis ekonomi kerap membawa peluang besar bagi bisnis yang siap dan memberikan solusi kebutuhan konsumen. Hal ini terjadi pada PT Tekad Mandiri Citra (TMC) yang memproduksi obat hewan dari Bandung di tahun 1998. 

Direktur Utama TMC, Drh. Gowinda Sibit memulai bisnis saat terjadi kelangkaan suplai obat hewan di tahun 1998. Harga pangan yang melambung karena pelemahan nilai tukar menjadi salah satu penyebabnya. Namun, dibandingkan berhenti produksi seperti bisnis lain, Gowinda justru melihatnya sebagai peluang. Ia memulai dan berhasil.

TMC tumbuh dari usaha lokal bermodal terbatas menjadi pemain nasional dengan jaringan distribusi dari Aceh hingga Jayapura. Bahkan, ia menargetkan dapat go- international di 2026–2030.

Berikut adalah beberapa insight bisnis dari Gowinda Sibit berikut:

Produk yang Berkualitas

TMC memproduksi obat hewan untuk ternak produksi seperti unggas, ruminansia, dan hewan lain yang dikonsumsi manusia. Karena itu, setiap produk TMC terhubung langsung dengan kualitas pangan sampai di meja makan.

Gowinda menjaga kualitas karena produknya juga harus memasukkan pencegahan dan pengobatan penyakit hewan. Obat yang dikonsumsi hewan harus TMC diperhitungkan dampaknya terhadap manusia. TMC juga mendukung upaya pemerintah menekan antimicrobial resistance (AMR) dengan membatasi antibiotik tertentu.

“Saat sosialisasi regulasi, kami sudah mulai adaptasi dengan mencari produk alternatif yang efektif dan aman,” sebut Gowinda.

Ia memastikan produk pangan hewani di Indonesia memenuhi standar ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) dari kandang hingga ke piring.

Membuat Standar Kerja SDM

Berbeda dengan industri lain, tenaga penjual di industri ternak hewan tidak bisa dilepas begitu saja.Tenaga penjual harus mengawal diagnosa, dosis, hingga efek terapeutik.

Sales kami bukan menjual, tapi menyelesaikan masalah peternak,” sebutnya.

Kualitas SDM juga menjadi hal yang diperhatikan di TMC. Gowinda mengaku bahwa bisnisnya kerap memberikan berbagai beasiswa S1–S2 untuk karyawan agar kualitas manusia tumbuh seiring pertumbuhan perusahaan.

Digitalisasi sebagai Sistem Kontrol

Sejak awal berdiri, TMC memahami bahwa efisiensi tidak mungkin dicapai tanpa teknologi. Operasional bisnis akan terbantu dengan bantuan teknologi. Namun, di pasaran, Gowinda menyadari tidak ada software yang sesuai dengan kebutuhannya. 

“Saya create sendiri sistem informatikanya. Kalau beli, saya yang harus beradaptasi. Jadi saya buat sendiri agar inline dengan kebutuhan,” jelas dia.

Mesin-mesin produksi yang dibutuhkan untuk produksi, sambungnya, juga diproduksi sendiri. Alat-alat seperti mixer (double cone, rocking, horizontal ribbon), oven, mixer double jacket untuk pemanasan/pendinginan, hingga biosafety cabinet (BSC) untuk laboratorium dibuat sesuai kebutuhan TMC.

Inovasi SELEN-OYE dan Transformasi Menjadi Perusahaan Riset

Langkah paling strategis dan transformatif TMC adalah target besarnya untuk tidak hanya menjadi perusahaan yang hanya mencampur obat (formulator). Ke depan, TMC ambisi untuk menjadi produsen bahan baku berbasis riset. Salah satu halnya adalah SELEN-OYE atau selenium organik dari yeast.

“Selenium organik ini adalah bahan baku obat pertama yang berhasil dibuat perusahaan Indonesia.”

Dengan memiliki bahan baku sendiri, TMC unggul dibandingkan dengan pemain besar yang masih bergantung pada barang produksi impor. TMC bukan lagi produsen obat hewan tetapi telah berkembang menjadi perusahaan biotek dan riset.

Leader yang Memberi Contoh

Salah satu alasan TMC terus tumbuh dan menjadi besar adalah memiliki SDM yang solid. Hal ini erat kaitannya dengan gaya kepemimpinan Gowinda. Sebagai leader, dia tidak ragu untuk turun ke kandang jam 02.00 pagi untuk melakukan edukasi peternak. Ia juga kerap memastikan berbagai masalah yang terjadi dengan pelanggan terselesaikan.

Terhadap karyawan, Gowinda membuka dua tangan. Saat pandemi COVID-19, TMC membantu keluarga karyawan yang terdampak. Berbagai reward juga diberikan seperti memberikan perjalanan umroh, perjalanan luar negeri, serta program kepemilikan mobil pada karyawan berprestasi. Dengan begitu, SDM TMC loyal. Kualitas produk juga terjaga sehingga kepercayaan peternak naik.

“Modal saya hanya mau dan kerja keras. Selebihnya, kami isi dengan belajar, riset, dan keberanian mengambil tanggung jawab,” tambahnya.

Scale-Up Nasional & Ambisi Go-Global

Berdiri sejak 1998, TMC kini memiliki 16 cabang dari Medan, Padang, Palembang, Lampung, seluruh Jawa, Bali, Kalimantan, hingga Makassar. Namun, Gowinda menyebut, ke depan dia memiliki target besar.

“Rentang 2026–2030 kami pastikan harus go-international. Andalan kami adalah produk riset,” targetnya.

Dengan basis bahan baku sendiri, TMC memiliki keunggulan yang tidak mudah ditiru produsen negara lain seperti Tiongkok sekalipun.

Rekomendasi Berita