
Di usia 23 tahun, banyak anak muda masih bingung menentukan karier dan jalan
hidup. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada Eva Alicia Wijaya. Di usia
tersebut, dia sudah memiliki empat bisnis Soul of Gold, yang merupakan
brand perhiasan,
Her Era, bazar fashion & lifestyle ekosistem, Nine
Theory, produktivitas & habit building,
dan Jiwamas Foundation yang merupakan yayasan sosial berbasis
community fundraising.
Perjalanan bisnisnya ini tidak dimulai dengan privilege atau perencanaan besar. Ia justru mengawalinya dari titik paling rendah saat beasiswa pendidikannya ke luar negeri batal, ekonomi keluarga jatuh sehingga hanya tersisa smartphone dan sedikit tabungan.
Simak bagaimana Eva Alicia memulai dan mengembangkan bisnisnya:
Strategi Bertahan yang Berubah Menjadi Bisnis Besar
Ketika pandemi membatalkan mimpinya ke sekolah desain di Amerika Serikat, Eva tidak lama berpangku tangan. Ia membuktikan bahwa krisis juga menyimpan kesempatan besar bagi bisnis.
Ia serius belajar membuat perhiasan secara handmade, mendatangi pabrik, membuat produk perdana, merakit, hingga mengirim karyanya ke klien. Dari langkah pertama ini,Soul of Gold lahir. Membuat perhiasan handmade memang sudah lama menarik perhatiannya.
Secara serius, dia melihat pasar Indonesia suka sesuatu yang custom. Segmen pasarnya adalah perhiasan di kelas menengah. DesainSoul of Gold sederhana agar bisa diukir, disesuaikan, dan digunakan sebagai “reminder of memories”, bukan sekadar perhiasan.
“Perhiasan itu hanya alat karena yang kita jual adalah storytelling,”sebutnya.
Selalu Eksekusi Ide dengan Cepat
Salah satu prinsip penting yang membuat bisnis Eva berhasil adalah eksekusi ketika masih hangat.
“Punya mindset 70% aja cukup. Begitu sudah ada gambaran harus langsung eksekusi,” jelas dia.
Dia mencontohkan beberapa hal seperti logo brand bisnis yang hanya dibuat satu menit, biografi Instagram hanya lima menit dan username media sosial yang hanya dalam hitungan detik.
Storytelling dan Public Speaking
Eva mengakui kekuatan terbesar Eva bukan hanya produk tetapi
storytelling. Agar dapat berbicara di depan publik, ia mendapatkannya
dari latihan rutin. Ia melakukan latihan presentasi dan menghadapi kamera
selama bertahun-tahun.
“Karya yang bagus bisa kalah jika komunikasinya buruk,” tambah
dia.
Manusia Percaya Manusia, Bukan Logo
Di era digital ketika seolah-olah hampir semua hal bisa diselesaikan di depan layar, kehadiran founder bisnis, menurut Eva, adalah aset terbesar brand.
“Brand kamu kuat kalau kamu berani tampil di kamera,” tambahnya.
Karena itu, Eva tidak hanya mengiklankan produk tetapi juga membangun hubungan emosional dengan audiens. Dia menunjukkan kepada follower media sosialnya bagaimana ia berjuang membangun bisnis dari rumah, membagikan produksi, dan value bisnis yang dimilikinya dengan konsep bercerita.
Dari hal tersebut, Eva juga berhasil menumbuhkan komunitas. Soulmates, komunitas yang dibangunnya, rutin berkumpul tidak hanya untuk membeli tetapi juga untuk saling berbagi cerita. Membangun komunitas yang solid, menurutnya lebih murah karena tidak perlu membakar uang. Di samping itu, komunitas juga lebih organik, efisien serta memiliki ikatan emosi.
Data sebagai “Rem” untuk Realisasi Mimpi
Eva menyebut dirinya adalah seorang pemimpi yang memiliki banyak mimpi besar. Meski begitu, dia tidak merealisasikan mimpinya secara membabi buta.
Data, baginya adalah rem yang digunakan untuk merealisasikan mimpi. Sebelum merealisasikan ide, Eva selalu melihat data penjualan, engagement media sosial, feedback pelanggan, dan inventory.
Mental yang Kuat
“Gagal itu pasti. Semakin cepat kamu mati rasa terhadap gagal, semakin cepat kamu tumbuh,” pesannya kepada generasi muda yang ingin membesarkan bisnis.
Eva juga memiliki prinsip “angka 9” dalam membangun bisnis. Angka 10, baginya adalah hal yang sempurna yang jarang terjadi. Namun, angka 9 adalah langkah terbaik yang bisa diusahakan dan dilakukan setiap harinya.
Gen Z Bukan “Lembek” tetapi Overexposed
Banyak pihak merasa gen-Z adalah generasi unik tetapi “lembek” secara mental. Eva tidak sepakat, menurutnya, generasinya bukan generasi lemah, tetapi generasi yang menghadapi distraksi, informasi terus menerus, selalu dibandingkan secara sosial, dan tekanan untuk sukses.
“Kita generasi paling banyak informasi. Itu berkah sekaligus beban,” tambah dia.
Karena itu, bagi founder bisnis yang ingin memimpin Gen Z, ia ingin berbagi insight. Agar bisa bekerjasama dengan gen-Z, leaders harus menjadi role model. Gen-Z juga ingin leaders yang memiliki kejelasan dan menawarkan tantangan sekaligus.