
Selain modal bisnis, tantangan membangun bisnis adalah kemampuan membaca kebutuhan yang belum disadari pasar. Pengalaman traveling ke berbagai tempat membuat Founder dan CEO SweetEscape, David Susanto memulai bisnisnya.
“Ke mana pun traveling, selalu ada orang asing dan bilang ‘excuse me, can you help us take a photo?’ seringnya begitu,” sebutnya.
Permintaan terjadi berulang kali di berbagai negara dan budaya memberikannya ide. Banyak orang yang ingin menikmati perjalanan tetapi ingin pulang dengan kenangan visual yang layak. Dari titik inilah bisnis SweetEscape berdiri dan bertahan.
Simak bagaimana insight penting David membesarkan bisnis:
Validasi Demand Pasar sebelum Memulai Bisnis
Saat melakukan perjalanan, David menyebut, setiap orang meminta foto pada mereka yang membawa kamera. Sosok itulah yang menjadi fondasi bisnis SweetEscape. Bila fotografer profesional dihadirkan, kebutuhan mereka terjawab.
David tidak langsung membangun ekosistem bisnis. Langkah awalnya justru memastikan bahwa kebutuhan tersebut ada dan berulang.
“Kita selalu bangun perusahaan sesuai kebutuhan. Cek dulu, ada tidak market dan demand-nya,” sebutnya. “Baru setelah itu membangun website, sistem booking, dan tim,” kata dia.
Menciptakan Kebutuhan Baru
SweetEscape masuk ke kategori bisnis yang belum lazim karena konsumen juga merasa belum membutuhkannya. David mengaku dirinya melakukan edukasi pasar.
Edukasi pasar yang dilakukan terbantu dengan sifat produk visualnya. Calon konsumen tidak perlu melakukan penjelasan. Mereka cukup melihat hasil foto dan membandingkannya dengan foto perjalanan seadanya.
“Begitu melihat hasil, langsung bilang ‘oh kita perlu nih’ dengan yakin,” sebut David.
Memudahkan Mitra, Membangun Value
Di bisnis jasa, kualitas mitra menentukan kualitas layanan. SweetEscape menghadapi tantangan saat merekrut fotografer yang berkualitas di berbagai kota dunia. David mengaku tidak memberikan janji pada fotografer yang akan bergabung. SweetEscape menawarkan sistem kerja yang memudahkan.
“Fotografer hanya fokus motret. Post-production dikerjakan SweetEscape,” jelasnya.
Setelah sistem berjalan, pertumbuhan jaringan fotografer terjadi secara organik, pada mereka yang senang dengan layanan. Portofolio global di berbagai negara menjadi bukti nyata kualitas platform dan layanannya.
David juga menyebutkan bahwa setiap booking adalah data penting. Mereka melihat bagaimana tujuan foto, jumlah orang, hingga dinamika keluarga yang menjadi dasar penugasan fotografer. Dengan begitu, layanan SweetEscape bisa menjadi lebih personal dan memberi nilai tambah.
“Kalau family trip tiga generasi, fotografernya harus lebih sabar. Kalau couple, beda lagi,” jelas David
Bertahan di Krisis dengan Kembali ke “Why”
Pandemi menjadi ujian besar bagi bisnis SweetEscape. Saat itu, semua rencana traveling berhenti total. Padahal, sebelumnya, SweetEscape berada di puncak permintaan.
Di tengah tekanan operasional dan finansial, David menekankan pentingnya kembali ke alasan awal membangun bisnis. Pandemi juga dapat menyaring tim yang lebih berkualitas.
“Mengetahui WHY saat membangun bisnis dapat menjadi motivasi dan makna mengapa kita melakukan ini sehingga terus bisa semangat,” katanya.
Adaptasi Tren Tanpa Kehilangan DNA Bisnis
Pasca-pandemi, SweetEscape membaca pergeseran gaya hidup. Aktivitas fisik seperti olahraga meningkat. Olahraga seperti padel dan olahraga yang berbasis komunitas menjadi fenomena lintas usia. Hal ini yang membuat Sweet Escape melakukan ekspansi vertikal dengan membuat SweetEscape Active.
“Kita hadir di momen baru dalam hidup. Itu juga kenangan,” ujar David.
Ekspansi dengan Sehat dan Terukur
Selain SweetEscape, David juga membangun bisnis lain di bidang Food & Beverage. Ia mengelola ratusan restoran di Indonesia yang berada di bawah BOGA Group. Fotografi dan FnB, sebutnya, adalah dua hal yang menjadi kecintaannya. Kedua bisnis tersebut tumbuh beriringan tidak hanya sebagai strategi diversifikasi tetapi ekspresi minat dan komitmen jangka panjang.
Prinsip memulai dengan skala kecil dan bertumbuh diterapkan baik di SweetEscape maupun BOGA Group. Pertumbuhan selalu ditopang oleh disiplin finansial.
Disiplin dan terukur juga menjadi salah satu filosofinya menjalankan bisnis agar sukses. Meski begitu, sukses bagi David adalah mampu memberi makna.
“Arti sukses adalah saat bisa melakukan hal yang dicintai dan berdampak bagi orang lain,” pungkasnya.