
Pecinta kuliner khas Purwakarta tentu tidak asing dengan nama Sate Maranggi Haji Yetty. Berawal dari usaha sederhana dengan modal terbatas, kini hidangan sate maranggi racikan Hajjah Yetty dikenal luas dan memiliki beberapa cabang di berbagai kota.
Di balik kesuksesannya, perjalanan usaha yang dimulai sejak awal 1990-an ini dibangun melalui proses panjang, konsistensi rasa, serta prinsip kerja yang sederhana namun kuat.
Berawal dari Usaha Keluarga
Sate Maranggi Haji Yetty bermula pada 1985, ketika orang tuanya membuka warung es kelapa muda di tempat usahanya yang ada saat ini: Cibungur, Purwakarta. Tahun 1990, Hajjah Yetty memutuskan untuk membantu usaha keluarga berjualan sate dari racikannya sendiri. Rasa dan resep racikannya ini ternyata disukai pecinta kuliner.
Tumbuh dari Kepercayaan Pelanggan
Saat media sosial belum massif, reputasi Sate Maranggi Haji Yetty berkembang lewat rekomendasi pelanggan. Strategi tersebut terbukti efektif. Dari waktu ke waktu, jumlah pelanggan terus bertambah dan usaha berkembang.
“Kesan pertama harus yang terbaik. Kalau mereka suka, pasti akan cerita ke orang lain,” sebutnya.
Namun perjalanan bisnis tidak selalu berjalan mulus. Hajjah. Yetty pernah menghadapi masa sulit, termasuk saat krisis ekonomi 1998 yang membuat usahanya mengalami penurunan.
“Kalau dijalani dengan ikhlas, rasanya bukan jadi beban,” katanya.
Inovasi dari Bahan Sederhana
Menu Sate Maranggi-nya terus berinovasi menciptakan berbagai menu baru. Salah satu yang populer adalah nasi tutug oncom yang menjadi favorit pengunjung. Ide menu tersebut justru lahir dari kebiasaan sederhana di rumah.
“Awalnya dari sambal oncom yang saya buat sendiri. Dicampur nasi, ternyata enak,” katanya.
Bagi Hajjah Yetty, bahan sederhana justru bisa memiliki nilai tinggi jika diolah dengan baik. Ia juga tidak ragu mencoba berbagai menu baru sampai siap disajikan kepada pelanggan. Menu baru tersebut kadang dipersiapkan berbulan-bulan sampai pas.
Filosofi Memasak dengan Hati
Lebih dari sekadar resep, Hajjah Yetty percaya bahwa rasa makanan sangat dipengaruhi oleh niat dan cara memasaknya. Menurutnya, memasak dengan penuh keikhlasan akan memberikan hasil yang berbeda.
“Kalau masak dengan sepenuh hati, rasanya juga terasa lebih enak.”
Nilai ini pula yang terus ia tanamkan kepada karyawan dan keluarga yang kini ikut mengelola usaha.
Regenerasi untuk Masa Depan
Setelah lebih dari tiga dekade membangun usaha, Hajjah Yetty mulai menyerahkan pengelolaan bisnis kepada keluarga. Keempat anaknya terlibat dalam pengembangan Sate Maranggi Haji Yetty, termasuk membuka cabang di berbagai kota seperti Jakarta, Tangerang, dan Bandung.
Meski demikian, Hajjah Yetty tetap melakukan pengawasan berkala untuk memastikan kualitas rasa dan pelayanan. Kontrol langsung tetap dilakukan agar semuanya tetap konsisten.
Jangan Takut untuk Mencoba
Bagi Hajjah Yetty, kesuksesan tidak datang secara instan. Ia percaya bahwa keberanian mencoba dan semangat pantang menyerah adalah kunci utama dalam menjalankan usaha.
“Jangan takut mencoba. Kalau gagal, coba lagi.” Pesan ini pula yang dibagikan kepada generasi muda yang ingin memulai usaha.
Dukungan yang Mempermudah Perjalanan Usaha
Dalam mengembangkan bisnisnya, Hajjah Yetty juga merasakan pentingnya dukungan dari mitra perbankan yang memahami kebutuhan pelaku usaha. Ia merasakan kemudahan layanan perbankan dari BCA yang membantu aktivitas bisnis sehari-hari.
“Kami dilayani dengan baik oleh BCA. pelayanannya cepat dan membantu,” ujarnya.
Dukungan layanan perbankan yang responsif menjadi salah satu faktor yang membantu Hajjah Yetty untuk tetap fokus mengembangkan bisnisnya.
Bersyukur sebagai Kunci
“Yang penting selalu bersyukur. Selama kita berusaha yang terbaik, insyaallah ada jalannya,” katanya.
Baginya, keberhasilan bukan hanya tentang pencapaian bisnis, tetapi juga tentang bagaimana usaha tersebut dapat memberikan manfaat bagi keluarga, karyawan, dan masyarakat sekitar.