
Kemitraan bisnis sering dipandang sebagai cara cepat menuju pertumbuhan, akses pasar yang lebih luas, hingga peningkatan pendapatan. Namun, tidak sedikit eksekutif yang gagal menyadari di balik peluang tersebut, ada risiko tersembunyi yang kerap menjadi penyebab gagalnya kerja sama.
Kurangnya komunikasi yang transparan, perbedaan visi, hingga pengelolaan ekspektasi yang tidak seimbang sering menjadi batu sandungan yang membuat kemitraan tidak berjalan sesuai harapan. Karena itu, eksekutif perlu memahami potensi kegagalan dalam kemitraan bisnis bukan hanya mengantisipasi risiko, tetapi juga menyiapkan strategi agar kolaborasi bertahan di jangka panjang.
Dengan perencanaan yang matang, pemahaman mendalam tentang mitra, serta mekanisme evaluasi yang jelas, kemitraan bisnis tidak hanya bisa dihindarkan, tetapi juga berpotensi menghasilkan pendapatan.
Alasan Melakukan Kemitraan Bisnis
Survei World Economic Forum (WEF) terhadap 159 eksekutif perusahaan global menunjukkan prospek cerah bagi kemitraan joint venture. Mayoritas responden (58%) menilai kondisi geopolitik saat ini lebih mendukung pembentukan joint venture dibandingkan merger dan akuisisi. Sementara 60% lainnya percaya joint venture lebih tangguh dalam menghadapi perlambatan ekonomi.
Survei itu juga melihat, optimisme terbesar datang dari enam sektor bisnis utama, yakni bisnis logam dan pertambangan, otomotif dan mobilitas, barang konsumsi, telekomunikasi, media dan teknologi, serta kedirgantaraan dan pertahanan.
Hindari saat Lakukan Kemitraan Bisnis
Agar proses kemitraan bisnis tidak berhenti di tengah jalan, berikut empat hal yang perlu dihindari eksekutif saat melakukan joint venture, seperti dikutip dari mckinsey.com:
1. Terburu-buru selesai
Banyak perusahaan menghadapi tekanan dari investor dan eksekutif untuk segera menyelesaikan kesepakatan joint venture (JV), sehingga sering mengabaikan perencanaan operasional. Akibatnya, mereka terburu-buru dalam menyusun business case, terlalu fokus pada aspek finansial, atau menggunakan klausul standar tanpa penyesuaian.
2. Kurangnya kontinuitas kepemimpinan
Banyak perusahaan gagal menjaga kesinambungan visi dalam membangun JV karena kepemimpinan yang terfragmentasi di tiap fase siklusnya. McKinsey menekankan perlunya satu eksekutif senior dengan otoritas penuh untuk mengawal proses dari awal hingga peluncuran, agar tujuan bisnis jelas dan tidak hilang di tengah detail teknis maupun pergantian tim.
3. Menurunnya keterlibatan eksekutif senior
Banyak perusahaan gagal menyadari pentingnya keterlibatan eksekutif senior dalam tahap akhir perencanaan JV. Minimnya kehadiran pengambil keputusan membuat beban negosiasi jatuh ke eksekutif junior, meningkatkan risiko dan ketegangan saat terjadi kesepakatan.
McKinsey menekankan agar struktur dan model operasi sejalan dengan visi, para eksekutif perlu aktif sejak awal hingga akhir proses, terutama dalam keputusan krusial seperti kendali operasional dan posisi kunci, sehingga kemitraan dapat berjalan lancar dan berkelanjutan.
4. Perencanaan kurang untuk merespon perubahan risiko
Perusahaan kerap mengabaikan perbedaan profil risiko saat membentuk JV, padahal ketidakseimbangan ini bisa merusak keberhasilan jangka panjang. Alih-alih hanya fokus pada perlindungan hukum, perencanaan JV sebaiknya mencakup mekanisme adaptif seperti pengaturan tata kelola, manajemen kinerja mitra, hingga skema bagi hasil agar mampu bertahan menghadapi perubahan.
Bagaimana menurut Anda? Hal apa dalam kemitraan bisnis Anda yang perlu dievaluasi?
Nasabah BCA Solitaire dan Prioritas, update informasi terkait ekonomi bisnis, finansial, dan gaya hidup di laman News website BCA Prioritas.
Informasi lengkap cek di sini