
Budaya BBQ Korea menjadi fenomena global karena dikenal dengan cara unik memasak daging langsung di atas panggangan di atas meja. Tak hanya digemari karena cita rasanya yang kaya, tapi juga pada pengalaman kuliner yang interaktif dan menyenangkan.
Selain nikmat, BBQ Korea juga menawarkan suasana yang hangat, membuatnya ideal untuk jamuan bisnis, acara perusahaan, maupun hubungan personal yang menciptakan hubungan yang lebih dekat dan produktif di dunia profesional.
Kuliner Korea Terus Digemari
Menurut data Global Korean Food Exports Market Report 2025, nilai pasar ekspor makanan Korea global mencapai sekitar USD12 miliar pada 2024 dan diproyeksikan terus tumbuh sekitar 6% secara YoY dari 2025 hingga 2035.
Permintaan global terhadap makanan Korea termasuk BBQ Korea, kimchi, ramyeon, banchan (lauk pendamping), dan produk siap saji mengalami pertumbuhan yang kuat sebagai bagian dari fenomena K‑Culture yang mendunia.
Di Indonesia, nilai ekspor produk makanan Korea telah mencapai sekitar USD203 juta per Oktober 2025. Capaian ini ini dipicu berbagai produk unggulan seperti ramyeon, kimchi, soju, dan makanan olahan lain yang semakin diterima konsumen Tanah Air.
Sejarah BBQ Korea
Di balik budaya BBQ Korea yang mendunia, tersimpan sejarah dan makna yang mendalam. Dikutip dari C-Korea, BBQ Korea berasal dari masa Dinasti Goryeo dan Joseon yakni tradisi memanggang daging di atas arang sebagai hidangan utama selama acara istana atau pertemuan keluarga.
Seiring waktu, metode memanggang daging berkembang dan menjadi ciri khas masakan Korea dengan berbagai bahan dan teknik memasak yang baru dan berbeda. Secara tradisional, BBQ dinikmati pada acara khusus dan festival yang melambangkan kemakmuran dan perayaan.
Kuliner Korea juga menganut value berupa keseimbangan yang direpresentasikan melalui yin-yang dan lima elemen yang menjelaskan komposisi visual dan nutrisi. Warna yang berbeda juga mewakili harmoni.
Lebih dari sekadar memasak daging, BBQ Korea menjadi acara komunal yang menyatukan. Dilansir dari Gan8nam, kegiatan memasak dan menikmati makan bersama merupakan aktivitas sosial yang sangat dihargai.
Aspek komunal dari BBQ Korea, di mana para pengunjung memasak daging sendiri di meja, menumbuhkan rasa kebersamaan dan interaksi. Mereka dapat menikmati makanan enak, kebersamaan yang menyenangkan, sekaligus menciptakan kenangan.
Berikut beberapa alasan mengapa BBQ Korea menjadi kuliner global yang bisa diterima di berbagai budaya:
Experience Dining yang Mudah Viral
BBQ Korea bukan sekadar makan bersama tetapi juga aktivitasnya termasuk grill di meja, memotong daging dengan gunting, membuat ssam (wrap) bersama. Format yang interaktif ini cocok dengan budaya konten di media sosial dan kebiasaan berkumpul.
Efek Hallyu (Korean Wave) Lintas Industri
Ekspansi Korea Selatan khususnya dalam segi kultur budaya seperti K-pop, K-drama, dan meningkatkan rasa ingin tahu. Setelah menonton drama korea misalnya, mereka ingin datang ke restoran karena penasaran. Pengalaman yang menyenangkan ditambah rasa yang enak di lidah membuat mereka tidak ragu untuk kembali. Fenomena Korean wave sering dibahas sebagai mesin soft power yang juga mengangkat K-food.
Ekspansi Restoran Korean Cuisine
Menurut riset Circana, jumlah restoran di AS selama 2024 lalu meningkat hampir 10 persen karena kenaikan permintaan konsumen. Hal ini tidak terjadi di Paman Sam saja tetapi juga di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Restoran bernuansa Korea, termasuk Korean BBQ menjadi lebih mudah ditemui di berbagai tempat dengan berbagai variasi menu dan konsep restoran.
Nasabah BCA Solitaire & Prioritas, apakah Anda adalah salah satu pecinta masakan Korea termasuk BBQ? Atau Anda sedang merencanakan jamuan BBQ Korea bersama keluarga dan rekan bisnis?
Anda dapat memanfaatkan benefit dari privilege di Magal Korean BBQ House, yang memberikan cita rasa Korea asli dalam semua menu yang disajikan.
Informasi lengkap cek di sini