5 Alasan Keluarga Asia Belum Punya Rencana Warisan Detail

(20/08/2026), Keluarga dengan kekayaan besar di Asia Pasifik banyak yang belum memiliki rencana pembagian warisan dengan detail. Hal ini karena berbagai faktor termasuk sulitnya komunikasi antaranggota keluarga.
  • Menyiapkan warisan keluarga melibatkan berbagai faktor termasuk hubungan antargenerasi, tradisi keluarga, serta kesiapan anggota keluarga. 
  • Isu warisan sensitif untuk dibicarakan, founder yang belum siap melepaskan kekuasaan, atau ketidaksiapan generasi penerus menjadi beberapa alasan. 

Menjaga dan mewariskan aset bagi keluarga dengan kekayaan besar (High Net Worth Individual/HNWI) bukan hal mudah. Kerap kali ada keberlanjutan bisnis, kesiapan generasi penerus, hingga nilai dan visi keluarga ketika kekayaan keluarga berpindah.

Di Asia, menyiapkan warisan keluarga melibatkan berbagai faktor termasuk hubungan antargenerasi, tradisi keluarga, serta kesiapan anggota keluarga untuk membicarakan masa depan kekayaan secara terbuka. Karena itu, rencana dan implementasi suksesi keluarga meninggalkan celah besar.

Survei Lombard Odier menunjukkan 64,2% HNWI di menempatkan rencana mewariskan kekayaan keluarga sebagai prioritas tetapi baru 26,9% yang telah memiliki rencana suksesi lengkap. Bahkan, ada 39,4% yang sama sekali belum ada rencana suksesi. 

Persoalan ini menjadi lebih besar karena pada momentum The Great Wealth Transfer, saat generasi pertama siap mewariskan bisnis dan kekayaannya pada anak-anak, terjadi gap antargenerasi. Khususnya terkait pada cara boomers, milenial, serta Gen-Z dalam mengelola kekayaan. 

Mengapa Suksesi Keluarga di Asia Tabu Dibicarakan? 

Mengutip Lombard Odier 2026, keluarga HNWI di Asia Pasifik bukan tidak menganggap suksesi penting. Gap besar antara keinginan mempertahankan kekayaan dan kesiapan membicarakan siapa yang akan menerima, memimpin, dan mengelolanya. 

Cek beberapa alasan mengapa mereka belum memiliki rencana suksesi keluarga: 

Pembicaraan Warisan Sensitif dan Dihindari 

Lombard Odier 2026 menyebutkan komunikasi menjadi salah satu tantangan dalam tata kelola kekayaan keluarga. Mereka juga menganggap warisan sebagai hal sensitif untuk dibicarakan dan sulit mencari kata sepakat antaranggota keluarga. Di keluarga Asia, percakapan mengenai pembagian aset, penerus bisnis, hingga peran anggota keluarga kerap bersinggungan dengan hubungan personal, nilai, dan sensitivitas antargenerasi.

Generasi Pendiri (Pertama) Belum Siap Melepaskan Kontrol 

Studi Campden Wealth-Raffles Family Office 2025 menyebutkan keengganan keluarga di Asia untuk melepaskan kontrol sebagai tantangan suksesi keluarga. 

Hal ini terjadi karena misalnya founder masih berada pada masa aktif mengelola kekayaan Ada juga faktor keengganan untuk melepas kendali bisnis yang menjadi kebanggan dirinya. 

Keraguan pada Kapasitas Generasi Penerus 

Survei Lombard Odier juga melihat kurangnya minat dan kesiapan generasi penerus bisnis. Mengutip survei ini, hanya 16,7% founder yang yakin generasi berikutnya siap mengelola kekayaan. Generasi penerus seperti GenZ juga mengaku belum yakin dengan kemampuannya dalam mengelola bisnis keluarga. 

Belum Ada Kesepakatan Alasan Kekayaan Keluarga Harus Dipertahankan 

Mempertahankan kekayaan seperti hal yang sama bagi semua orang tetapi implementasinya bisa berbeda. Lombard Odier survei menemukan empat dari sepuluh responden belum memiliki struktur governance formal. 

Riset lain menyebutkan "legacy" memiliki banyak makna tergantung tradisi keluarga dan pengaruh personal. Perdebatan keluarga tidak hanya terjadi antara pihak yang “peduli” dan “tidak peduli” terhadap warisan tetapi juga mengenai legacy mana yang perlu dijaga.

Survei IMD Business School menyebut tidak ada satu model yang selalu benar dalam menyusun legacy keluarga. Mempertahankan kontrol, mengejar pertumbuhan, dan menyediakan likuiditas bagi anggota keluarga membutuhkan pilihan yang berbeda.

Perencanaan Warisan Masih Informal 

Banyak keluarga sebenarnya menyusun legacy, tetapi pembicaraannya selalu berubah sehingga belum menjadi suatu keputusan resmi. Karena itu, mereka juga belum menggunakan jasa professional.

Padahal, pendampingan profesional memberikan gambaran jelas mengenai struktur pada percakapan yang personal dan informal. Mereka dapat membantu keluarga menerjemahkan nilai yang berbeda menjadi tujuan, aturan, dan keputusan. 

Rencana suksesi keluarga yang formal tidak hanya menghasilkan trust, wasiat, atau dokumen hukum. Governance memberi keluarga tempat dan aturan untuk membuat keputusan bersama, siapa yang boleh bekerja di perusahaan, bagaimana dividen ditentukan dan lainnya. 

Nasabah BCA Solitaire & Prioritas, bagaimana menurut Anda? Bagaimana Anda merencanakan rencana suksesi keluarga agar dapat berjalan dengan smooth? Membantu Anda menyiapkan rencana keuangan termasuk Wealth Transfer, Anda dapat menghubungi Relationship Manager atau Personal Banker Anda.

Rekomendasi Berita